HOME / NEWS

Tuesday, 06 February 2018 | 09.21 WIB

KEMENTERIAN DALAM NEGERI MALAYSIA KUNJUNGI PERCETAKAN GRAMEDIA CIKARANG

Percetakan Gramedia Cikarang mendapat kunjungan dari Lembaga Pengawalan dan Pelesanan Pencetakan Al Quran (LPPPQ) Kementrian Dalam Negeri (KDN) Malaysia pada Selasa, 24 Oktober 2017.

Dibuka dengan kata sambutan dari Benny Yudi Setiawan selaku Cikarang Printing Vice GM, lalu dilanjutkan dengan penjelasan serta pemutaran video company profile Grup Kompas Gramedia yang disampaikan oleh Kompas Gramedia Corporate Communication GM, Syaiful Bahri. Serta penjelasan pencetakan Al Quran yang lebih detail melalui video oleh Supply Chain Cikarang, Joko Purwanto. Acara dilanjutkan dengan plant tour guna melihat secara langsung proses produksi Alquran.

"Kita berkunjung ke sini untuk melihat best practice (praktek terbaik) yang dilaksanakan di Indonesia , khusunya dalam kawalan (kontrol) percetakan Al Quran. Gramedia merupakan salah satu pemain besar dalam industri percetakan di Indonesia. Percetakan ini juga terlibat dalam pencetakan Al Quran. Alhamdulillah dari kunjungan ini kita dapati kepatuhan yang sangat tinggi," papar Setiausaha Bahagian Kawalan Penerbitan dan Teks Al Quran Kementrian Dalam Negeri Malaysia, Tuan Haji Mohd Nawardi Bin Saad.

Sebelumnya, mereka lebih dulu berkunjung ke Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama Republik Indonesia di Taman Mini, Jakarta Timur. "Ada banyak persamaan dan perbedaan, tergantung pada kesesuaian negara masing-masing. Di Indonesia dari segi pengalamannya lebih banyak dari Malaysia. Di Indonesia bermula tahun 1950an, tapi di Malaysia mulai tahun 1980an. Indonesia lebih berpengalaman dari Malaysia," kata Nawardi. 

Sementara itu, Nawardi mengungkapkan ada perbedaan kaidah penulisan Al Quran antara Indonesia dan Malaysia, yaitu pada segi penandaan dan naskah Al Quran di mana Malaysia sendiri mewajibkan setiap Al Quran dicetak lengkap dengan hologram. Apabila tidak ada hologram, maka akan dikenakan Undang-undang yang berlaku di Malaysia. Perbedaan lainnya yaitu mengenai izin pencetakan Al Quran. Di Malaysia berada dibawah Kementerian Dalam Negeri , sementara di Indonesia berada dibawah Kementerian Agama.

Meski adanya perbedaan, Nawardi mengatakan akan mencari jalan keluar sehingga tidak menimbulkan masalah baru. Tidak hanya melihat cara kerja dipercetakan, Nawardi mengatakan dari kunjungan tersebut juga bisa dijalin kerja sama yang baik di kemudian hari. (Nurul Putri Pebriani)